“Kalau Mau Lewat, Bayar Lahan Kami!”: Protes Keras Pemilik Lahan di Lokasi Tambang PT Riota Jaya Lestari

Kolutsociety.online – Ketegangan kembali terjadi di lokasi operasional PT Riota Jaya Lestari, Sabtu (28/2/2026).

‎Seorang ibu pemilik lahan nekat menghadang kendaraan operasional tambang sebagai bentuk protes atas belum dibayarkannya ganti untung lahan seluas sekitar 7–7,5 hektare.

‎Aksi tersebut terekam dalam video yang beredar di media sosial Facebook. Dalam rekaman itu, ibu pemilik lahan berdiri tepat di depan kendaraan perusahaan, menutup akses jalan dan melontarkan pernyataan emosional.

‎“Masalahnya Riota ini cuma janji-janji saja, Pak,” ujarnya.

‎Ia bahkan mengucapkan kalimat yang menggambarkan kekecewaan mendalam.

‎“Saya bilang bunuh saja saya. Saya tidak mau,” katanya sembari tetap menghadang mobil tambang.

‎Menurutnya, sengketa ini sudah berlangsung sekitar tiga tahun tanpa penyelesaian yang jelas.

Pihak perusahaan disebut hanya menawarkan Rp200 juta untuk seluruh lahan, sementara keluarga pemilik lahan mematok harga Rp80 juta per hektare.

‎“Tidak ada kesepakatan. Pihak PT hanya mau bayar Rp200 juta,” tegasnya.

‎Jika dihitung berdasarkan permintaan keluarga, nilai lahan 7,5 hektare tersebut jauh di atas angka yang ditawarkan perusahaan. Perbedaan nilai inilah yang menjadi akar kebuntuan negosiasi.

‎“Kalau mau lewat, silakan bayar lahan kami. Katanya Riota perusahaan kuat, bayar mi pale. Tiga tahun kami sudah cukup sabar,” ujarnya lagi.

‎Situasi ini dinilai berpotensi memicu eskalasi apabila tidak segera dimediasi secara serius.

Aksi pemalangan dan penghadangan operasional tambang tentu memiliki risiko hukum, namun di sisi lain, tuntutan hak atas tanah juga merupakan persoalan yang tidak bisa diabaikan.

‎Hingga berita ini diterbitkan, manajemen PT Riota Jaya Lestari belum memberikan pernyataan resmi terkait tudingan tersebut.

‎Kolut Society mencatat, konflik agraria seperti ini kerap berulang di wilayah pertambangan ketika proses ganti untung tidak transparan dan berlarut-larut.

Tanpa penyelesaian yang adil dan terbuka, ketegangan di lapangan berpotensi terus membesar.

Lebih baru Lebih lama