Aksi tersebut terekam dalam video yang beredar di media sosial. Dalam rekaman itu, ibu pemilik lahan tampak menutup akses jalan mobil tambang yang melintas di atas lahan miliknya. Suaranya bergetar menahan emosi.
“Masalahnya Riota ini cuma janji-janji saja, Pak,” ujarnya.
Ia bahkan melontarkan pernyataan penuh keputusasaan.
“Saya bilang bunuh saja saya. Saya tidak mau,” katanya sambil tetap berdiri menghadang kendaraan perusahaan.
Menurut pengakuannya, lahan seluas sekitar 7 hingga 7,5 hektare tersebut telah digunakan perusahaan selama bertahun-tahun. Namun hingga kini belum ada kesepakatan pembayaran ganti untung yang dianggap layak oleh keluarga.
Pihak perusahaan disebut hanya menawarkan Rp200 juta untuk seluruh lahan. Sementara keluarga pemilik lahan mematok harga Rp80 juta per hektare. Jika dikalkulasikan, nilai yang diminta keluarga dinilai masih dalam batas wajar dibandingkan luas lahan yang dimanfaatkan.
“Tidak ada kesepakatan. Pihak PT hanya mau bayar Rp200 juta,” tegasnya.
Selama tiga tahun terakhir, keluarga mengaku terus memberikan kesempatan agar persoalan diselesaikan secara baik-baik. Namun karena tidak ada kepastian, mereka memilih melakukan aksi langsung di lapangan.
“Kalau mau lewat, silakan bayar lahan kami. Tiga tahun kami sudah cukup sabar,” ucapnya.
Aksi ini menjadi potret kekecewaan warga kecil yang merasa haknya belum dipenuhi. Di tengah kuatnya aktivitas industri tambang, masyarakat berharap perusahaan menunjukkan itikad baik dengan menyelesaikan kewajiban ganti untung secara adil dan manusiawi.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Riota Jaya Lestari belum memberikan tanggapan resmi.
Kolutsociety.online – Kesabaran seorang ibu pemilik lahan akhirnya mencapai batas. Setelah tiga tahun menunggu kepastian ganti untung yang tak kunjung dibayarkan, ia memilih berdiri menghadang kendaraan operasional milik PT Riota Jaya Lestari, Sabtu (28/2/2026).
Tags:
Problematika
